BisnisHukum

Ahli Tergugat Tegaskan AUP Tidak Kuat Buktikan Kerugian, dalam Sidang Sengketa Lahan 150 Hektar di Jombang

Foto: Kanan, Pengacara Richard dan Michael (Baju Biru) serta Billy Handiwiyanto (Lima Kanan) saat dengarkan pendapat ahli Didied

Surabaya, JejaringPos.com – Tergugat Nany Widjaja lewat tim kuasa hukumnya Richard Handiwiyanto, Billy Handiwiyanto serta pengacara Michael menghadirkan Didied Poernawan Affandy, seorang Ahli sebagai dosen dan akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya, dalam sidang gugatan yang dilayangkan PT Java Fortis Corporindo (JFC), terkait sengketa pengadaan lahan pada kawasan industri di Jombang.

PT JFC, dalam sidang gugatan terhadap mantan Direkturnya, Nany Widjaja, di Pengadilan Negeri Surabaya, memunculkan perdebatan mendasar mengenai dasar pembuktian yang diajukan penggugat. Pihak tergugat menegaskan, keterangan yang dihasilkan melalui prosedur dan disepakati (Agreed-Upon Procedures/AUP) tidak memiliki kekuatan untuk membuktikan adanya kerugian maupun kesalahan, bahkan justru menunjukkan prematuritas gugatan yang diajukan.

Tim kuasa hukum tergugat Nany, yakni Advokat Richard dan Billy Handiwiyanto maupun Michael, meminta pendapat ahli Didied terkait AUP.

Sementara, Dosen Kampus Brawijaya tersebut menjelaskan bahwa bobot pembuktian yang dihasilkan melalui standar jasa terkait SJT 4400, dan digunakan AUP itu sifatnya non-assurance. Tidak memberikan opini, tidak menarik kesimpulan, hanya sekadar memaparkan fakta sesuai prosedur yang disepakati terbatas. Itu bukan audit investigasi yang mampu mengukur kerugian secara utuh.

Didied Poernawan juga menambahkan AUP hanyalah langkah awal pencarian fakta (fact-finding), bukan alat bukti yang dapat berdiri sendiri untuk menyimpulkan adanya kerugian atau penyalahgunaan wewenang. Karena prosedurnya terbatas dan disepakati sebelumnya, hasilnya tidak dapat digeneralisasi maupun dijadikan dasar penarikan kesimpulan menyeluruh atas transaksi pembelian tanah tersebut.

Ahli juga menegaskan bahwa untuk membuktikan adanya kerugian perusahaan, terutama dalam transaksi bernilai besar diperlukan audit investigasi yang mendalam, yang mencakup konfirmasi kepada seluruh pihak terkait, pemeriksaan dokumen lengkap, serta verifikasi menyeluruh, bukan sekadar prosedur terbatas yang disepakati sepihak.

“Kalau hanya berlandaskan AUP untuk menuntut kerugian, itu terlalu prematur. Belum ada kesimpulan, belum ada penilaian menyeluruh, namun sudah diajukan sebagai gugatan. Itu sama saja menarik kesimpulan sebelum fakta lengkap terungkap,” ujar ahli, pada Rabu (26/8/2026) saat diruang sidang candra dengan dipimpin majelis hakim yang diketuai hakim Teguh Santoso.

Diketahui, Perkara ini bermula dari dugaan ketidakberesan pengelolaan dana pengadaan lahan kawasan industri di Jombang senilai Rp21,4 miliar, yang dinilai penggugat tidak dapat dipertanggungjawabkan secara layak.

Namun pihak tergugat melalui penekanan pada keterbatasan AUP, menegaskan bahwa belum ada dasar yang kuat untuk menyatakan adanya kerugian maupun kesalahan yang dapat dibebankan kepada mantan direksi.

Sidang berikutnya dijadwalkan akan mendengarkan Saksi Ahli kedua dari Tergugat.

Usai sidang, Richard Handiwiyanto selaku kuasa hukum Nany Widjaja mempertegas posisi pihaknya terkait keterangan ahli tersebut. “Tadi ahli tegas menyatakan kalau untuk menentukan kerugian itu tentunya harus dengan audit investigatif, karena audit AUP itu tidak bisa memberikan opini karena beda pedoman dasarnya. Kalau AUP itu kan pedoman dasarnya SJT 4400, nah itu memang auditor tidak boleh mengeluarkan opini. Opini itu untuk apa? Opini itu untuk menentukan apakah ada kerugian atau enggak berdasarkan bukti-bukti yang ada,” ujar Richard Handiwiyanto dan tim.

Ia menjelaskan perbedaan mendasar kedua jenis pemeriksaan. “Nah, sedangkan AUP itu adalah dalam bahasa Indonesia prosedur yang disepakati, berarti auditor hanya mengaudit dari prosedur yang disepakati antara pemberi kerja, yaitu PT atau direksi dalam hal ini, dengan auditor Apalagi yang bisa dilihat dari tadi jelas, untuk menentukan kerugian tentunya harus ada audit investigatif karena itu semacam dua produk yang berbeda,” jelasnya.

“Antara AUP dengan investigatif itu dua produk yang berbeda dan sama sekali tidak bisa dijadikan satu. Mungkin judulnya sama-sama audit, tapi beda bentuknya. Sehingga AUP tadi itu hanya untuk sekadar prosedur saja yang diaudit, sedangkan kalau investigatif itu menyeluruh, keseluruhan populasi,” sambungnya.

Richard Handiwiyanto menyoroti kesimpulan yang disampaikan ahli soal pendapatnya jika catatan AUP dinilai prematur.

“Ada catatan dari pernyataan ahli tadi, kalau AUP ini catatannya adalah terlalu prematur untuk bisa digunakan sebagai penentu perusahaan ini memiliki kerugian atau tidak. Hari ini ada ahli yang dari Universitas Brawijaya, menjelaskan dan menegaskan bahwa yang namanya AUP itu sifatnya terbatas dan belum cukup untuk menarik kesimpulan adanya kerugian,” tutup pengacara muda.Red

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button