Pertumbuhan Ekonomi dan Realitas Kehidupan: Ketika Angka Bertambah, Daya Beli Menghilang

Oleh: Prof.Dr. Oscarius Y.A Wijaya,M.Si.,M.H.,M.M.,CLI.
Surabaya, JejaringPos.com – Pemerintah menyampaikan ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5 persen. Angka itu secara teori adalah kabar baik. Namun di pasar, di usaha kecil, di properti, di toko-toko, bahkan di kalangan profesional, pertanyaan yang sama terus muncul: Kalau ekonomi tumbuh, kenapa uang terasa hilang dari peredaran?
Warung sepi. Properti sulit terjual. Bisnis melambat. Konsumen banyak bertanya, sedikit yang membeli. Bahkan diskon besar pun sering tidak mampu memancing transaksi.
Ini bukan perasaan individual. Ini fenomena ekonomi nyata. Masalahnya sederhana: pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti uang sampai ke rakyat. Angka pertumbuhan nasional dihitung dari total aktivitas ekonomi besar-proyek infrastruktur, investasi korporasi, ekspor komoditas, dan sektor industri skala besar.
Semua itu sah dan penting. Namun dampaknya tidak langsung terasa pada ekonomi sehari-hari masyarakat.
Secara statistik ekonomi bergerak.
Secara psikologis rakyat menahan diri.
Hari ini masyarakat tidak berhenti punya uang, tetapi berhenti merasa aman menggunakan uangnya. Ketika rasa aman hilang, konsumsi melambat. Ketika konsumsi melambat, bisnis terasa mati-meskipun ekonomi secara angka tetap tumbuh.
Inilah paradoks zaman modern: ekonomi sehat di laporan, tetapi lesu di lapangan.
Ada tiga penyebab utama mengapa fenomena ini terjadi.
Pertama, uang terkonsentrasi pada sektor tertentu. Pertumbuhan lebih banyak dinikmati sektor besar dibanding ekonomi mikro.
Kedua, masyarakat mengalami tekanan biaya hidup. Pendapatan naik tipis, tetapi pengeluaran naik cepat. Akibatnya uang habis untuk bertahan, bukan berbelanja.
Ketiga, ketidakpastian masa depan membuat orang memilih menabung daripada membeli. Psikologi ekonomi berubah dari optimisme menjadi kehati-hatian.
Dalam ilmu ekonomi perilaku, ini disebut fear-driven economy- ekonomi yang dikendalikan rasa khawatir, bukan kemampuan membeli.
Karena itu, solusi ekonomi hari ini bukan sekadar menjaga angka pertumbuhan, melainkan menghidupkan kembali rasa percaya masyarakat untuk bertransaksi.
Ekonomi sejati bukan hanya soal angka di laporan negara, tetapi tentang apakah rakyat berani membuka dompet tanpa rasa takut akan hari esok.
Jika rakyat masih ragu membelanjakan uangnya, maka pertumbuhan belum benar-benar menjadi kesejahteraan. Dan mungkin pertanyaan paling jujur hari ini bukanlah “berapa persen ekonomi tumbuh”, melainkan: Siapa sebenarnya yang merasakan pertumbuhan itu?.
Penulis adalah Guru Besar di Akademi Sekretari dan Manajemen Indonesia (ASMI) Surabaya dan Ketua Umum Forum Profesi Dosen Republik Indonesia (FPDRI).


